Hidup yang keras pernah dialami Daud, yakni saat ia
dicengkeram semua musuhnya dan dikejar Saul. Hidupnya nyaris binasa, tapi Tuhan
mendekat, menolong dan menyelamatkannya. Daud menggambarkan kerasnya hidup yang
menimpanya dengan ungkapan-ungkapan simbolis. Ia “dililit tali-tali maut”,
“ditimpa banjir-banjir jahanam”, “dibelit tali-tali dunia orang mati”, dan
terperangkap dalam “perangkap-perangkap maut”. Masalah memberatkan dan membuat
hidupnya sesak. Daud tidak menyangkali atau menghindar serta melarikan diri dari
masalah tapi mengakui dan menghadapinya dengan cara berseru kepada Tuhan. Ungkapan
berseru kepada Tuhan menegaskan makna yang inspiratif. Pertama, akta berseru
kepada Tuhan mengandung pengertian meyakini dan mengandalkan kuasa Tuhan.
Kedua, berseru berarti pula melepaskan beban yang menekan dari batin agar
kelegaan dimiliki. Masalah atau hidup yang keras bukanlah akhir keberadaan kita
karena kasih Tuhan melebihinya. Kasih-Nya lebih kuat dari kerasnya hidup.
Masalah apa pun dapat dihadapi dan diatasi bila kita meyakini pertolongan
Tuhan. Tuhan akan menolong memberi kekuatan, hikmat dan jalan keluar. Ia
mendengar teriak minta tolong yang disampaikan kepada-Nya. Pemazmur berkata: Ia
membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan
kepadaku. Pengalaman iman pemazmur ini kiranya meneguhkan kita saat menghadapi
kerasnya hidup. Tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai hari
penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan, banyak juga mengalami
kekerasan, baik fisik, kata, ekonomi maupun seks. Tuhan tak pernah menghendaki
kekerasan, maka kita pun terpanggil untuk menghentikannya.
Doa: Bapa, kiranya
kami selamat melewati kerasnya hidup ini. Amin.
.png)
Posting Komentar
Posting Komentar