HATI YANG SETIA, BERSYUKUR DAN JUJUR

Posting Komentar
Bacaan. Mazmur 50 : 22 - 23
Bacaan hari ini berisi catatan pembetulan terhadap salah paham umat Tuhan saat mereka mempersembahkan kurban. Mereka berpikir bahwa Allah memerlukan kurban untuk mendapatkan makanan (lihat pasal 50:8-13). Pandangan ini keliru dan perlu diperbaiki. Tuhan menghendaki hati yang setia, bersyukur dan jujur. Mempersembahkan kurban memang merupakan salah satu ketantuan dalam peribadatan dan karena itu harus dipenuhi. Namun, makna kurban tak boleh dibatasi secara material semata. Kurban yang dipersembahkan itu justeru bermakna bila hati orang yang mempersembahkannya “bersih”. Hati yang “bersih” berdampak positif bagi dimilikinya cara hidup yang benar. Kurban yang dipersembahkan kepada Tuhan haruslah berasal dari kehidupan yang berkenan pada Tuhan. Kurban tak boleh dipisahkan dari hidup orang yang mempersembahkannya. Bila kurban dipersembahkan oleh orang yang hidupnya berkenan pada Tuhan, maka terpenuhilah maksud ungkapan: ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati bersumber dari hati yang setia, bersyukur dan jujur. Oleh sebab itu hidup yang benar ditandai dengan perilaku setia, bersyukur dan jujur. Kesetiaan harus diaktakan dalam hidup ini agar kita terluput dari ancaman atau mengalami penghukuman. Orang yang mempersembahkan syukur sebagai kurban, memuliakan Tuhan. Muliakanlah Tuhan dengan hidupmu dan bersyukurlah senantiasa. Ingatlah siapa yang jujur jalannya, akan melihat keselamatan dari Tuhan. Kita memang harus mengupayakan pemenuhan kebutuhan fisik selama hidup di dunia ini. Karena itu peliharalah hati agar tetap bersih sehingga hidup kita berkenan pada Tuhan.
Doa: Bapa, berilah kepada kami hati yang setia, bersyukur, dan jujur. Amin.
Jemaat GPM Soya
Blog yang dibuat untuk membantu pelayanan dalam lingkungan/wilayah Jemaat GPM Soya.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter