Bacaan hari
ini berisi catatan pembetulan terhadap salah paham umat Tuhan saat mereka
mempersembahkan kurban. Mereka berpikir bahwa Allah memerlukan kurban untuk
mendapatkan makanan (lihat pasal 50:8-13). Pandangan ini keliru dan perlu
diperbaiki. Tuhan menghendaki hati yang setia, bersyukur dan jujur.
Mempersembahkan kurban memang merupakan salah satu ketantuan dalam peribadatan
dan karena itu harus dipenuhi. Namun, makna kurban tak boleh dibatasi secara
material semata. Kurban yang dipersembahkan itu justeru bermakna bila hati
orang yang mempersembahkannya “bersih”. Hati yang “bersih” berdampak positif
bagi dimilikinya cara hidup yang benar. Kurban yang dipersembahkan kepada Tuhan
haruslah berasal dari kehidupan yang berkenan pada Tuhan. Kurban tak boleh
dipisahkan dari hidup orang yang mempersembahkannya. Bila kurban dipersembahkan
oleh orang yang hidupnya berkenan pada Tuhan, maka terpenuhilah maksud
ungkapan: ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati bersumber dari hati yang setia,
bersyukur dan jujur. Oleh sebab itu hidup yang benar ditandai dengan perilaku
setia, bersyukur dan jujur. Kesetiaan harus diaktakan dalam hidup ini agar kita
terluput dari ancaman atau mengalami penghukuman. Orang yang mempersembahkan
syukur sebagai kurban, memuliakan Tuhan. Muliakanlah Tuhan dengan hidupmu dan
bersyukurlah senantiasa. Ingatlah siapa yang jujur jalannya, akan melihat
keselamatan dari Tuhan. Kita memang harus mengupayakan pemenuhan kebutuhan
fisik selama hidup di dunia ini. Karena itu peliharalah hati agar tetap bersih
sehingga hidup kita berkenan pada Tuhan.
Doa: Bapa,
berilah kepada kami hati yang setia, bersyukur, dan jujur. Amin.
.png)
Posting Komentar
Posting Komentar