Kemakmuran
pada dasarnya merupakan berkat, keuntungan dan bukti dari sebuah prestasi
atau keberhasilan yang dicapai seseorang. Selayaknya
kemakmuran itu membawa damai sejahtera, memberikan sukacita dan ketenteraman.
Namun faktanya kemakmuran lebih banyak membawa petaka. Saat seseorang berhasil
memperoleh kemakmuran, rendah hati bukan
lagi menjadi ciri khasnya melainkan keangkuhan. Keangkuhan inilah yang membuat
seseorang gemar mengukur segala sesuatu termasuk pencapaian kemakmuran yang
didapat berdasarkan kedudukan, jabatan, harta benda, atau bahkan status sosial.
Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan seseorang bukan
saja akan menjadi lupa diri, tetapi juga lupa akan Tuhan-nya.
Sikap dan tingkah laku demikian bukanlah hal
yang baru terjadi di dunia dewasa ini, melainkan sudah
berlangsung pula di masa silam. Nas hari ini menyaksikan akan adanya kenyataan
keangkuhan itu. Raja negeri Tirus menjadi
angkuh dan sombong akan kerajaannya yang kuat. Namun melalui nabi Yehezkiel
Allah memberi peringatan kepada raja itu bahwa keangkuhannya yang seolah-olah
ingin mentuhankan diri itulah yang akan membawa ia dan kerajaannya dalam
malapetaka besar. Sejatinya,
kebalikkan dari sikap angkuh dan sombong
adalah rendah hati, sebuah sifat yang terbentuk melalui pengenalan kita akan
Allah. Kita, sebagai
pribadi dan keluarga boleh meraih keberhasilan dan mendapatkan kemakmuran,
tanpa harus
melupakan bahwa semua itu adalah berkat Tuhan. Hiduplah
dengan rendah hati dan muliakan Allah dengan semua yang dimiliki. Jadilah
alat kesaksian-Nya bagi sesama dan dunia.
Doa: Tolonglah kami Tuhan
agar tidak angkuh atau sombong tetapi selalu hidup rendah
hati. Amin.
.png)
Posting Komentar
Posting Komentar