Kami tak pernah menyangka jika “mama” mesti mengalami gangguan penyakit pada kandungannya. Dari kota Ambon sampai ibukota Jakarta, kami berjuang demi kesembuhan dan pemulihan mama. Kenyataan yang kami hadapi terasa pahit. Ketakutan, kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan dan hilangnya pengharapan seperti berjalan mendekati kami. Dan kami hanya bisa berserah dalam doa kepada Tuhan Yesus. Terkadang kami mengeluh, bersungut hadapi penanganan medis yang menurut kami lambat karena kami ingin mama segera sembuh. Kenyataan ini persis dialami bangsa Israel dalam perjalanan dari Laut Teberau ke Padang Gurun Syur yang juga diperhadapkan dengan ketersediaan air yang kurang bahkan air rasa yang pahit (Mara). Mereka tidak tahan dengan kondisi yang demikian sehingga mereka terus berteriak dan bersungut kepada Musa. Tuhan menolong mereka dan menunjukan sepotong kayu kepada Musa untuk dilemparkan ke dalam air, dan seketika itu juga air berubah menjadi manis. Pertolongan Tuhan mungkin tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak pernah terlambat, namun pertolongan-Nya tepat pada waktu-Nya. Sebagai manusia, terkadang kita menginginkan jawaban yang cepat dan sesuai dengan keinginan kita, tanpa memikirkan bahwa rancangan Tuhan pasti yang terbaik. Air yang pahit diubah menjadi manis, bukanlah sebuah kebetulan, namun itu adalah cara Tuhan membentuk orang-orang Israel agar sabar, setia, taat dan berharap selalu pada-Nya. Hal yang sama pula Tuhan inginkan supaya kita memilikinya sebagai keluarga orang-orang percaya. Percaya bahwa proses yang kita jalani, dan jawaban Allah akan membuahkan sesuatu yang manis walau awalnya pahit bagi kita.
Doa: Berilah kepada kami kesabaran untuk melihat janji manis-Mu, Tuhan. Amin.

Posting Komentar
Posting Komentar