Umumnya dipahami bahwa di balik setiap tindakkan yang manusia lakukan, pasti terdapat motivasi dan tentu berbeda-beda adanya. Namun dalam kekristenan, setiap tindakkan harus didasari oleh motivasi yang sama yaitu kasih. Karenanya sejak kecil kita didorong dan diajarkan untuk selalu menunjukkan kasih, baik itu kepada orangtua, sekitar (alam), para sahabat, dan terutama untuk Tuhan. Kasih adalah sesuatu yang mutlak ada dalam kehidupan orang percaya. Kasih bukan hanya sekadar ciri kekristenan tetapi adalah jati diri orang Kristen. Mengapa demikian? Sebab Allah adalah kasih dan kasih-Nya itu telah diwujudnyatakan dalam Yesus Kristus dengan keteladanan yang patut dicontohi. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus menyangkut keberadaan mereka sebagai milik Kristus dan hidup dalam Kristus. Sehingga Paulus menekankan tentang kasih sebagai jati diri mereka. Sebab orang-orang di Korintus, selalu membanggakan karunia-karunia, iman, pengetahuan, serta amal/perbuatan baik yang mereka miliki. Paulus memperingatkan mereka bahwa tanpa kasih, maka karunia yang paling mulia sekalipun tidak akan ada nilainya. Sebab karunia yang diberikan oleh Allah adalah untuk membangun jemaat dan jika tanpa kasih maka semua yang mereka miliki hanyalah akan menghancurkan persekutuan jemaat. Kasih ibarat lem yang merekatkan, sebab tanpanya rupa-rupa karunia akan berdiri sendiri hanya untuk kepentingan pribadi dan tak ada nilainya. Orang hanya akan menyombongkan atau membanggakan diri dengan karunia ataupun kebaikan yang ia lakukan. Kasih membuat orang percaya sadar bahwa apa yang ia miliki adalah karena Tuhan. Karena itu Paulus ingin mengingatkan kita bahwa semua talenta, karunia dan apapun yang dilakukan dalam hidup haruslah berlandaskan pada kasih. Bila kasih menjadi dasar segala hal, maka apapun yang kita lakukan dalam kehidupan keluarga, jemaat dan masyarakat pasti bermakna serta menjadi kemuliaan bagi Tuhan.
Doa: Tolong kami Tuhan, untuk hidup dalam kasih yang sejati. Amin.
.png)
Posting Komentar
Posting Komentar