Ipen, nanti tunggu bapak yang gemuk-gemuk di luar ya”, kata teman pendetaku melalui telepon. Sudah lima menit berlalu, kapal cepat sudah hampir lepas jangkar, namun bapak yang dibilang oleh teman pendetaku belum juga tiba. Aku sudah mulai tidak tenang menunggu kedatangan bapak tersebut. Ketika tubuhku hendak berbalik menuju pintu kapal, tiba-tiba ada seorang ibu yang memanggil “ibu pendeta, sepertinya bapak yang tadi ibu pendeta bilang sudah dari sana”, serunya sambil menunjuk ke arah pagar masuk pelabuhan. Mataku pun tertumbuk pada seorang bapak yang berbadan besar sementara duduk di belakang pengendara motor sambil memegang sebuah bingkisan. Menunggu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika dilakukan dalam waktu yang terbatas. Ketidaksabaran hingga kekuatiran pun menjadi sikap orang yang menunggu. Nabi Yesaya dan bangsa Israel pun dalam teks bacaan hari ini menunjukkan sikap penantiannya terhadap penggenapan janji keselamatan dari Allah. Mereka menantinya sedemikian rupa seperti pengintai yang berjaga-jaga. Walau mereka belum tahu kapan Tuhan akan menyelamatkan, tetapi mereka tidak kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan janji tersebut. Mereka menanti sepanjang hari, sepanjang malam bahkan tidak pernah berdiam diri. Mereka hendak menunjukan kesungguhan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun tak dapat tenang dan dapat segera mewujudnyatakan janjiNya. Seperti sikap Nabi Yesaya dan bangsa Israel, demikian pula seharusnya sikap kita saat ini di dalam masa-masa adventus. Kita menanti perayaan kelahiran Yesus tanggal 25 Desember dan kita menanti kedatangan Tuhan pada kali kedua. Kita harus menunjukkan kesungguhan dan sikap kewaspadaan kita dalam penantian. Sehingga ketika Ia datang, kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh siap.
Doa: Kami menanti-nantikan Engkau Tuhan, Penyelamat kami. Amin

Posting Komentar
Posting Komentar