Paulus memberitakan injil di Yerusalem dan dihadapkan di hadapan mahkamah agama. Ia berbicara dengan berani sehingga imam besar Ananias menyuruh orang menampar mulutnya. Kemampuan yang dimiliki Paulus pada saat menghadapi situasi ini sangat mengagumkan. Pertama, tamparan atau kekerasan fisik yang dialaminya ditanggapi dengan hanya berkata-kata. Menampar pipi seseorang yakni memukul dengan tangan bagian luar bermakna penghinaan. Ia tidak membalas penghinaan dengan balas menghina, namun menyerahkan perlakuan keji tersebut kepada Allah yang memiliki kebebasan bertindak. Allah itulah yang dia percaya dan memanggil serta memberinya kuasa untuk menjadi seorang rasul. Kekerasan, penolakan, dan penghinaan adalah risiko yang tak dapat dihindari dalam pekerjaan pemberitaan injil. Caranya menghadapi tantangan itulah yang perlu dijadikan motivasi beriman. Kekerasan atau penghinaan dibalas dengan kebaikan dan penyerahan hidup kedapa Tuhan. Kedua, ia mampu mengalahkan orang banyak yang menentangnya hanya dengan kecakapan berbicara dan pengetahuan yang dimiliki. Seorang diri dalam kerumuhan dan hadangan orang banyak tidaklah menciutkan nyali Paulus. Kisah ini menegaskan bahwa dalam kesukaran, Roh memampukan Paulus berbicara dan memanfaatkan pengetahuan yang ada padanya. Inilah cara beriman, bila hidup diperhadapkan dengan masalah, tetaplah berserah dan mohon kuasa untuk dapat berbicara dengan baik dan mampu menggunakan pengetahuan yang ada.
Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tetap berserah dalam tangan kasih-Mu. Amin.

Posting Komentar
Posting Komentar