Kasih Allah selalu berorientasi pada hidup, tidak diskriminatif dan bermuara pada upaya memperjuangkan keadilan. Karena hal inilah kekristenan harus identik dengan kasih dan solidaritas, sebab merupakan hakekat dari kekristenan itu sendiri. Pada sisi lain kasih dan solidaritas bersifat inklusif (terbuka) dan tidak diskriminatif. Hal ini penting untuk dimaknai sebab seseorang disebut manusia yang beraklak/bernilai bukan karena status keagamaannya, tetapi sejauh mana ia menjadikan status keagamaan itu sebagai kekuatan untuk membantu orang lain keluar dari keterputukan melalui potensi yang dimilikinya. Prinsip berimani inilah yang memungkinkan seseorang memperoleh keselamatan kekal. Sebuah keselamatan yang diperoleh, bukan karena tidak melakukan dosa saja sesuai dengan aturan dalam agama namun juga keselamatan pertanggungjawaban yang akan diperhitungkan Tuhan saat penghakiman terakhir.
Blog yang dibuat untuk membantu pelayanan dalam lingkungan/wilayah Jemaat GPM Soya.
Related Posts
Tema bulan ini
Gereja yang Berbuah: Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah
Bacaan hari ini
Amsal 18 : 15 - LPJ GPM

Posting Komentar
Posting Komentar