Salah satu buku terkenal, berjudul “Semakin Dibabat Semakin Merambat” mengisahkan tentang penganiayaan yang dialami oleh para martir pada abad-abad pertama, ketika mereka dipaksa untuk berpaling dari imannya kepada Kristus, algojo-algojo dikerahkan untuk menyiksa mereka dengan berbagai cara, dari fajar hingga senja. Tidak hanya siksaan jasmaniah yang mereka alami tetapi juga batiniah; kehilangan atau kematian anak, orang tua, suami atau istri: yang peristiwanya sering kali terjadi di depan mata mereka sendiri. Namun para martir itu tetap dan semakin berpegang teguh pada imannya dan bahkan jumlahnya pun semakin bertambah. Pengalaman Penganiayaan karena iman kepada Kristus juga dialami oleh orang Kristen pada saat itu dan Paulus sendiri ketika ia melaksanakan tugas pemberitaan Injil yang dianggapnya sebagai harta yang indah yang dipercayakan Kristus kepadanya (ay.7). Dan akibat dari tugas tersebut, maka ia harus mengalami cemohan, caci maki, dibenci bahkan dipenjarakan. Paulus senantiasa mampu bertahan dan menjalaninya, karena Allah menganugerahkan kekuatan (kuasa) yang berlimpah-limpah kepadanya (ay.8-9). Paulus, memahami bahwa Allah tidak meninggalkannya sendiri; ketika ia jatuh ia bangun kembali, ketika ia kalah iapun tahu bahwa pada akhirnya ia tidak akan pernah kalah dalam perjuangan. Kematian dan kebangkitan Kristus menghadirkan kehidupan kekal, “tidak ada salib, maka tidak ada mahkota”. Orang percaya dipanggil untuk memberitakan injil Kristus kepada dunia dengan taat dan setia dalam keadaan bagaimana pun. Ingatlah Firman Tuhan: ”Aku Menyertai kamu senanantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28: 20).
Doa: Ya Tuhan, tinggallah didalamku & kuatkanlah aku untuk memberitakankabar baik bagi sesama, supaya orang melihat Engkau dan kekuatan-Mu dalam diriku, Amin.

Posting Komentar
Posting Komentar