Kesediaan untuk mengampuni tidaklah mudah, tergantung sejauh mana penghayatan terhadap besarnya pengampunan dari Allah atas dosa dan kesalahan yang dilakukan. Oleh karena itu mengampuni hendaknya dilakukan dengan segenap hati. Namun orang yang telah diampuni harus pula memperlihatkan kesungguhan dalam bertobat dan membarui diri. Sebab pengampunan menjadi tidak berarti apabila tidak diikuti dengan pertobatan dan pembaruan hidup. Hal ini perlu dipahami karena memberi ampun sejatinya merupakan tindakan pembebasan bagi diri sendiri maupun diri orang yang bersalah. Pembebasan diri sendiri artinya bebas dari lingkaran kebencian dan dendam. Sedangkan pembebasan bagi orang yang diampuni berarti ia diberi kesempatan kedua untuk membarui dirinya. Pada sisi lain, pengampunan tidak bergatung berapa banyak jumlahnya, tetapi justri bergantung pada nilai yang terkandung di dalam pengampunan itu sendiri. Nilai dimaksud sangat berguna untuk memotivasi orang bersalah agar hidup dalam kedamaian dan sukacita. Sikap saling mengampuni bagi orang percaya sesungguhnya merupakan salah satu wujud dari pemberitaan injil.
Blog yang dibuat untuk membantu pelayanan dalam lingkungan/wilayah Jemaat GPM Soya.
Related Posts
Tema bulan ini
Gereja yang Berbuah: Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah
Bacaan hari ini
Amsal 18 : 15 - LPJ GPM

Posting Komentar
Posting Komentar