Bacaan : Ulangan 15 : 7-8
Musa menekankan realitas kemiskinan dan bagaimana orang yang lebih kaya atau berkelebihan harus menanganinya. Mereka diperingatkan akan adanya bahaya bagi orang yang berkelebihan menyikapi orang miskin di sekitarnya, yakni: menegarkan hati mengabaikan kebutuhan orang miskin dan menggenggam tangan untuk tidak bersedia memberikan apa yang diperlukan orang mereka. Allah memperhatikan sikap dan motivasi mereka untuk menolong orang yang berkekurangan. Karena itu, Musa memperingatkan umat Israel agar mereka jangan menegarkan hati dengan sikap yang serakah dan mementingkan diri sendiri. Allah menginginkan mereka memiliki hati yang bersimpati. “..tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan” (ay.8). Firman Allah ini mendorong umat Israel pada masa lampau dan kita pada masa kini untuk memiliki bela rasa dengan sesama, keprihatinan, dan kemurahan terhadap mereka yang sedang kekurangan dan mengalami kesulitan, dan mereka yang miskin dan bersedia untuk membantu tanpa memikirkan untung rugi. Bukankah Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang sama kepada kita untuk kita ikuti? Dia peduli kepada orang banyak dengan berbagi hidup dengan mereka, menolong orang yang susah dan menderita, membantu orang yang berkekurangan. Karena itu, ketika kita berniat membantu sesama yang susah dan membutuhkan, jangan memikirkan untung rugi. Berbela rasalah dengan motivasi yang tulus dan hati yang benar.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup berbela rasa dengan sesama yang lemah dan membutuhkan. Amin. (Sumber : LPJ GPM)

Posting Komentar
Posting Komentar